efek endowment

mengapa kita merasa barang milik kita jauh lebih berharga daripada aslinya

efek endowment
I

Pernahkah kita mencoba menjual barang bekas kesayangan, lalu merasa tersinggung dengan tawaran harganya? Misalnya, kita berniat menjual ponsel lama atau gitar yang sudah berdebu di pojok kamar. Kita menaruh harga yang menurut kita masuk akal. Lalu, datanglah calon pembeli yang menawar dengan harga jauh di bawah ekspektasi. Tiba-tiba, kita merasa agak marah. Kita membatin, "Enak saja, barang ini masih bagus, banyak kenangannya!"

Namun, jika kita mau jujur dan melihat dari kacamata si pembeli, barang itu mungkin memang hanya sebuah ponsel dengan layar yang sudah sedikit tergores, atau gitar dengan senar berkarat. Tidak ada kenangan emosional apa pun di mata mereka.

Jadi, mengapa ada jurang pemisah yang begitu besar antara harga di kepala kita dan nilai pasar yang sebenarnya? Mengapa kita menganggap barang yang sudah kita miliki tiba-tiba menjadi jauh lebih berharga daripada saat barang itu terpajang di etalase toko? Mari kita bedah bersama, karena ternyata, ada sabotase tak kasat mata yang sedang terjadi di dalam otak kita.

II

Untuk memahami keanehan ini, kita perlu mundur sejenak ke masa lalu. Jauh sebelum ada konsep tawar-menawar di aplikasi jual-beli online, nenek moyang kita hidup di alam liar. Pada masa itu, kepemilikan adalah urusan hidup dan mati. Memiliki tombak yang bagus, batu pemantik api, atau sepotong daging buruan berarti satu hal: kita bisa bertahan hidup lebih lama.

Secara evolusioner, otak kita didesain untuk mencengkeram erat apa yang sudah ada di genggaman. Melepaskan sesuatu berarti mengambil risiko besar. Insting purba inilah yang secara diam-diam masih mengendalikan kita di era modern. Kita sering mengira bahwa manusia adalah makhluk rasional yang pandai berhitung. Kenyataannya, ketika berurusan dengan barang milik sendiri, logika matematika kita sering kali dibajak oleh emosi.

Namun, insting saja tidak cukup untuk menjelaskan seberapa irasionalnya kita. Para ilmuwan perilaku dan psikolog menyadari ada fenomena spesifik yang berulang kali terjadi. Mereka pun mulai merancang berbagai eksperimen unik untuk mengukur seberapa besar bias yang kita miliki terhadap barang kita sendiri.

III

Salah satu eksperimen paling legendaris dilakukan oleh ekonom Richard Thaler (pemenang Nobel) dan psikolog Daniel Kahneman. Mereka membagi mahasiswa di Universitas Cornell ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama diberi sebuah cangkir kopi berlogo kampus secara cuma-cuma. Kelompok kedua tidak diberi apa-apa.

Lalu, dimulailah simulasi pasar. Kelompok pertama diminta untuk menjual cangkir mereka kepada kelompok kedua. Coba tebak apa yang terjadi?

Kelompok pembeli rata-rata hanya mau membayar sekitar $2 untuk cangkir tersebut. Namun, kelompok penjual menolak melepaskan cangkir mereka jika tidak dibayar minimal $5. Ingat, cangkir itu identik. Para penjual ini pun baru memiliki cangkir tersebut selama beberapa menit. Tidak ada kenangan masa kecil atau nilai historis apa pun di sana.

Mengapa rentang harganya bisa lebih dari dua kali lipat? Apakah ini murni karena manusia pada dasarnya serakah? Ataukah ada proses kimiawi rahasia di balik tengkorak kita yang memicu keras kepalanya kita saat harus melepaskan barang? Para ahli saraf (neuroscientists) pun penasaran dan akhirnya memutuskan untuk memasukkan orang-orang ini ke dalam mesin pemindai otak.

IV

Mesin fMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging) mengungkap sebuah fakta keras yang menakjubkan. Fenomena yang sedang kita bahas ini secara ilmiah disebut sebagai efek kepemilikan (endowment effect). Efek ini berakar pada sebuah prinsip psikologi yang sangat kuat: loss aversion atau penghindaran kerugian.

Secara sederhana, rasa sakit akibat kehilangan sesuatu terasa dua kali lebih intens dibandingkan rasa senang saat mendapatkan sesuatu yang bernilai sama.

Namun, temuan mesin pemindai otaklah yang menjadi jawaban utamanya. Ketika subjek penelitian diminta membayangkan untuk menjual atau memberikan barang milik mereka, bagian otak yang bernama insula tiba-tiba menyala aktif. Teman-teman, insula adalah wilayah otak yang sama yang memproses rasa sakit fisik dan rasa jijik.

Artinya, bagi otak kita, menjual barang kesayangan bukan sekadar transaksi finansial. Secara neurologis, melepaskan barang itu diproses sebagai sebuah rasa sakit. Begitu kita merasa memiliki sesuatu, barang itu secara psikologis berubah menjadi perpanjangan dari identitas diri kita. Menjual ponsel lama atau gitar berdebu itu terasa seperti memotong sedikit bagian dari diri kita sendiri. Wajar jika kita tanpa sadar mematok harga tinggi—kita sebenarnya sedang memberi kompensasi untuk "rasa sakit" dari perpisahan tersebut.

V

Memahami endowment effect memberikan kita kelegaan tersendiri. Kita jadi tahu bahwa kita tidak sedang menjadi orang yang serakah atau egois. Kita hanyalah manusia biasa yang otaknya masih menjalankan perangkat lunak warisan zaman purba.

Pengetahuan ini adalah alat bantu berpikir kritis yang sangat praktis. Saat teman-teman sedang merapikan rumah dan merasa begitu berat membuang baju lama yang tidak pernah dipakai lagi selama lima tahun, ingatlah: itu hanya insula kita yang sedang bereaksi berlebihan. Saat kita kesulitan menjual aset atau barang, kita bisa mulai belajar melepas kacamata emosi dan melihat nilai objektifnya.

Bahkan, efek kepemilikan ini tidak hanya berlaku untuk barang fisik. Hal ini juga berlaku pada ide dan opini. Pernahkah kita bertanya-tanya mengapa sangat sulit mengakui bahwa pendapat kita salah? Karena begitu kita "memiliki" sebuah opini, otak kita melindunginya layaknya harta benda berharga. Melepaskan opini yang terbukti keliru terasa sama sakitnya dengan kerugian finansial.

Pada akhirnya, hidup adalah rentetan proses mengumpulkan dan melepaskan. Dengan menyadari kelemahan kecil di otak kita ini, kita bisa menjadi sedikit lebih bijak, sedikit lebih objektif, dan yang terpenting: belajar untuk melepaskan segala sesuatu dengan lebih lapang dada.